RSS Feed
logo
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

21 step's to be real entrepreneur

New Release Book

Fiqh Kontemporer
image

http://buyayahya.org/

Hallo P3K Community @h4r1soulputra follows
image

DARI PRAKTISI P3K
image

Hari 'Soul' Putra

Community Specialist


Penemu The Supreme Learning Program
P3KCheckUp Publishing & Business Advisory
Statistik Pengunjung

Facebooker on community
Dzikrul lil 'Alamin

SIRKUIT RASA TAKUT

SIRKUIT RASA TAKUT  

By Hari ‘Soul’ Putra

(Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Entah di rencanakan atau tidak, terkadang dalam suatu kesempatan, kita mengalami sebuah kejadian yang tidak mengenakkan.  Entah ketika akan berangkat kerja, silahtuhrahiim ke tempat teman, mengunjungi orang sakit, mengantar anak sekolah dan lain – lain.  Biasanya ada yang merespon dengan tetap positif, atau malah menilai dirinya sedang apes/sial hari itu.

KETAKUTAN VS KEBERANIAN

Dalam suatu kesempatan mengunjungi seorang teman di daerah Pasar Ahad, saya naik bis dari terminal Depok.  Setelah menunggu beberapa penumpang, bis jurusan Depok – Grogol merayap menyelusuri jalan Margonda raya.  Tidak berapa lama kemudian, naik 2 orang pengamen laki – laki.  Seperti biasa, ada muqaddimah sebelum mereka bernyanyi.  Sekilas tidak ada yang aneh dari penampilannya, tetapi saat itu hari masih pagi, dan matahari belum terlalu terik.  Berapa kali saya lihat, dari wajahnya muncul, bintik – bintik keringat sebesar biji jagung, setelah berbicara tidak terlalu jelas, baru terasa aroma minuman keras memenuhi ruangan dalam bis. 

Setelah bernyanyi 2 lagu, seorang dari 2 laki – laki itu, mengeluarkan plastik bekas bungkus permen, dan mulai menyodorkannya ke penumpang.  Seperti di komando, semua penumpang tidak ada yang  memberi uang ke mereka.

Setelah pengamen tersebut sampai di kursi paling belakang, tiba – tiba terdengar suara gaduh dan terjadi perkelahian satu lawan  satu, rupanya entah siapa yang memulai baku hantam tersebut.  Dan secara tiba – tiba supir bis mengerem mendadak, menghentikan laju bis.  Beberapa ibu – ibu di bangku depan terlihat histeris, anak – anak menjadi takut, bahkan ada yang menangis.  Situasi menjadi kacau, dasar lagi mabuk, pengamen tersebut walau dihujani pukulan berkali – kali, tetap saja menantang orang pertama yang memukulnya.  Tidak berapa lama kemudian, beberapa laki – laki dewasa   mencoba melerai dan menurunkan pengamen tersebut.  Setelah saling tarik menarik, akhirnya pengamen tersebut diturunkan secara paksa.

Setelah bis kembali berjalan, mulailah gelombang komentar bersahut – sahutan seperti orkestra tanpa alat musik.  Berkata ibu yang duduk paling depan, “Sebaiknya di bawa ke polisi aja pengamen tadi, agar tidak mengganggu lagi. Biar di penjara sekalian,” tambahnya.  Di sahut oleh ibu yang duduk di tengah, “Polisi mah, gak bakalan mau memproses, gak ada duitnya.”

“Pukulin aja ampe babak belur, biar tahu rasa dia,” sahut ibu yang rambutnya pendek. 

Mitra sejati, kontras sekali suasana ketika, terjadi keributan di awal dengan setelah kejadian berakhir.   Ketika di awal, semua penumpang menjadi kaget dan takut.  Tidak ada yang berkomentar, tetapi setelah melihat banyaknya penumpang laki – laki dewasa di kursi belakang, muncul sedikit keberanian untuk menonton kejadian.  Setelah kejadian bisa di atasi, baru timbul kesadaran untuk menjadi berani dengan komentar – komentar pedas dan terkesan gagah.

Cerita di atas, hanya sebuah kasus, yang mungkin kita pernah temui atau akan kita alami dalam kita hidup bermasyarakat.  Jika seperti itu kejadiannya, apa yang sebaiknya kita lakukan dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Di alam bebas, sudah kondratinya yang lemah tidak akan menyerang yang kuat.  Seekor kijang tidak mungkin melawan seekor singa, kecuali singa itu sudah tua, masih bayi atau sedang sakit keras.  Tetapi dalam kita berinteraksi di masyarakat, ada dua lingkungan yang berpengaruh terhadap kita, yaitu

1.    Lingkungan yang tidak teratur, karena permusuhan, konfrontasi dan kekerasan potensial.  Situasi di bis kota tersebut, termasuk kategori ini

2.    Lingkungan yang teratur, kompetitif tapi tidak dengan kekerasan.  Seperti kehidupan profesional, bisnis perorangan, pegawai negeri dan sebagainya     

Pada lingkungan yang tidak teratur, kejadian – kejadian yang menimbulkan kekerasan, rasa takut sebaiknya kita hindari.  Bukan karena keburukan karakter, tetapi ekspresi fisik atas suatu pilihan.  Seperti ketika kita menonton acara TV yang bagus atau mematikan TV yang acaranya menyebalkan.  Ini hanyalah sebuah pilihan, menghindari atau menghadapi, jangan masuk wilayah abu – abu.  Jika kita menghadapi, pasti akan kita terima konsekuensi, dan  hadapilah dengan kekuatan terbaik yang kita punyai, jika kita menghindari, tetaplah tenang sambil melihat – lihat kondisi yang terjadi dan ambil strategi penyelamatan diri. 

SIRKUIT PENGENAL RASA TAKUT

Rasa takut atau berani, secara ilmiah muncul dari inspeksi /visualisasi, dimana otak/memori merespon, yang akhirnya menghasilkan rasa takut atau berani. 

Ketika kita dihadapkan pada situasi lingkungan yang tidak teratur, entah dalam bentuk bahasa tubuh, konflik verbal (langsung atau melalui telepon atau tertulis) dan gangguan properti  (bentuk dari eskalasi kekerasan) maka otomatis muncul sirkuit rasa takut dalam diri kita. Dimulai dari terkejut , muncul perasaan ragu – ragu , lalu cemas akhirnya menimbulkan rasa takut .   

Dan secara fisik, ini ditandai dengan : perut tiba- tiba menjadi kaku, ketegangan otot di sekitar leher dan bahu, tubuh menjadi tegang dan kaku, pikiran menjadi buruk, adanya ekspresi wajah yang memucat, denyut jantung menjadi cepat, napas tidak beraturan.

Khusus untuk masalah napas, kita bisa melihat apakah seseorang itu takut atau berani.  Jika dia takut, tanda umum yang muncul biasanya, pernapasannya menjadi cepat dan tidak beraturan, tidak berani membuat kontak mata yang serius dengan lawannya, secara bertahap biasanya menjauh.  Sedangkan orang yang berani, bernapas secara dalam dan terkendali, membuat kontak mata dengan lawannya, perlahan – lahan maju mendekati lawannya dan sikapnya percaya diri.

Jika kondisi ini yang kita alami, sebaiknya jaga jarak dengan orang atau lawan kita, miliki motivasi yang tinggi, lakukan langkah – langkah persuasif, miliki kebiasaan yang positif dengan menggunakan otot dan otak. Baiklah, mari kita kupas satu persatu :

1.    Jaga jarak

Hal paling mendasar menghadapi lingkungan yang tidak teratur dan memunculkan rasa takut adalah menjaga jarak dengan orang yang akan kita hadapi.  Ketentuan ini tidak hanya berlaku ketika menghadapi lawan, pada orang yang baru kita kenalpun, perlu waspada dan menjaga jarak.

Ukuran jarak yang ideal adalah 100 cm.  Usahakan tubuh se-rileks mungkin, tetap tersenyum, hilangkan kesan takut

2.    Motivasi tinggi

Tidak ada motivasi yang paling tinggi kecuali meluruskan jarum hati dan membela haq yang suci.  Jika motivasi kita karena latah atau ikut – ikutan, takut dihukum, memunculkan perasaan ego dan kebanggaan, maka sebaiknya kita urungkan niat kita itu untuk melawan atau menghadapinya.  Karena ketika kita kalah (konsekuensi logis dari orang yang melawan, jika tidak menang ya kalah), kalahnya kita tidak menjadi pahala, bahkan jika kita mati atau kalah mati atau kalahnya kita. menjadi terhina di dunia. 

Sedangkan jika motivasi kita adalah membela diri melindungi orang yang kita kasihi serta membela yang haq dari tujuan suci, yaitu membela diri dari kezholiman orang lain berdasarkan panduan Quran dan Sunnah, maka ketika kita kalah atau mati, maka matinya kita menjadi syahid, sedangkan jika menang menjadi mulia.

3.    Persuasif

Setelah kita memiliki motivasi suci meluruskan jarum hati dan membela yang haq, maka tidak kalah pentingnya adalah berkomunikasi secara persuasif.  Pada dasarnya, tidak ada orang yang suka dengan kekerasan, tetapi dikarenakan kondisi dan situasi yang terjadi, maka kekerasan diperlukan.  Sebelum terjadi kekerasan dan rasa takut, sebaiknya melakukan strategi komunikasi, bernegoisasi, mencari titik temu, hingga terhindar dari kekerasan buat kedua belah pihak

4.    Miliki kebiasaan positif.

Kebiasaan positif ini, meliputi perpaduan otot dan otak.  Agar bisa digunakan pada kondisi darurat, ada baiknya, dilakukan latihan – latihan seperti daya tahan tubuh atau endurance .  Juga pengaturan napas serta mempelajari, teknik – teknik efektif dalam membela diri.

Diperlukan sebuah situasi dalam bentuk latihan – latihan  menghadapi kekerasan dan rasa takut, agar kombinasi kekuatan otot dan kecerdikan otak dapat menyelesaikan masalah yang muncul.

Setelah itu barulah kita bisa mengendalikan rasa takut yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak teratur tadi.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

Http://www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan Twitter : h4r1soulputra  

 

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda . Terima Kasih.

Copyright © 2012 SMCorp. · All Rights Reserved