RSS Feed
logo
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PEMBICARA - PENULIS - PERENCANA KEUANGAN
Artikel Terbaru
Arsip
21 step's to be real entrepreneur

New Release Book

DARI PRAKTISI P3K
image

Hari 'Soul' Putra

Financial Motivator


Penemu The Supreme Learning Program
Statistik Pengunjung

image

 

 

 

 

 

FB Motivasi Keuangan

 

WealthFlow 19 & Business Advisory
Mau Nambah Passive Income
Bimbel Bisnis Online
Media Strategic Partner
Radio Internet

Strategi Sun Tzu dalam V.U.C.A.S dan Manajemen Aset Keuangan-Part 2

image

Oleh : Hari Soul Putra

Setelah kita bahas Strategi Sun Tzu di Part 1, mari kita lanjutkan ke Part 2 sembari menikmati sajian teh manis dan cemilan hangat di rumah masing-masing dengan tetap mengedepankan Protokol Kesehatan ketika bepergian atau kedatangan tamu ke rumah kita.

Apa hubungannya Strategi berbasis Harapan ala Sun Tzu dengan ke-3 aset utama kita, yakni Aset lancar, Aset guna pakai dan Aset investasi dalam Manajemen Aset Keuangan agar kita bisa lepas dari keterpurukan keuangan hari ini?

Setiap aktivitas yang kita lakukan hari ini tentulah hasil dari sebuah Tindakan dan Kebiasaan bertahun-tahun yang kita lakukan.

Dalam tradisi masyarakat Pulau Jawa kita mengenal istilah watak atau tabiat yang men-drive setiap aktivitas kita sehari-hari.

Bahkan ada sebuah pemeo (perkataan yang lucu untuk menyindir dan lain sebagainya) yang pertama kali saya dengar dari Cak Nun, “Jika kita Watuk (batuk) itu gampang diobati, tapi Watak (tabiat) sulit sekali diubah.”

 

Mengalirkan Watak ke tempat terbaiknya

Banyak orang tidak bisa bangkit dari keterpurukan keuangan karena tidak mau 'memaksa' wataknya untuk berubah.

Paling tidak merubahnya dengan menggeser atau mengalirkannya ke arah yang lebih baik dan positif.

Seorang 'triliyuner' abad ke-7, Sahabat Umar Bin Khattab RA, memiliki watak yang keras, tetapi berubah ketika mendapat hidayah.

Kerasnya beliau, tetap 'tersalurkan' ke arah yang lebih baik di zamannya.

Pertanyaannya, apa itu watak?

Watak menurut KBBI daring adalah sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku serta budi pekerti manusia tersebut.

Sedangkan watuk atau batuk oleh KBBI daring dimaksudkan sebagai penyakit pada jalan pernapasan atau paru-paru yang kerap kali menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan sehingga merangsang penderita mengeluarkan bunyi yang keras seperti menyalak.

Dalam pemeo (perkataan yang lucu untuk menyindir dan lain sebagainya) masyarakat Jawa, watak dikonotasikan sebagai tabiat negatif.

Tidak bisa diubah alias tidak dapat disembuhkan.

Mengapa?

Karena keberadaan watak menjadi satu paket jiwa raga dengan sang jabang bayi.

Sedangkan watuk dapat disembuhkan dengan cepat.

Karena watuk diposisikan sebagai penyakit yang menganggu jalan pernapasan.

Di Era Masker dan New Normal hari ini, sehebat apapun daya rusak Virus Covid 19, karena penyakit yang datang dari luar tubuh kita, tidak lebih berbahaya dari rusaknya watak karena penyakit tanpa harapan.

Disinilah peran watak bisa menetralisir dan mengarahkannya ke arah yang lebih positif.

Bagaimana cara kita memandang HARAPAN dalam perspektif Motivasi Keuangan?

 

3 Aset Keuangan Di Era Masker dan New Normal

Dalam konteks Motivasi Keuangan, harapan (roja') untuk bisa bebas dari Pandemi Covid 19 dan kembali ke kehidupan normal seperti sebelum datangnya pandemi hanya bisa dilakukan ketika kita memiliki sikap mental orang kaya yang berawal dari ‘perubahan’ watak.

Ada 3 macam aset yang bisa kita analogikan pada konteks perangnya Sun Tzu dalam irama 3 Mental Keuangan Di Era Masker dan New Normal, yakni :


1. Senjata adalah aset investasi

Investasi adalah menyisihkan sebagian uang atau harta kita buat masa depan dan bertumbuh.

Dengan pertumbuhan kita bisa merasakan dampak penggandaan aset-aset kita menjadi lebih produktif.

Pada sebuah investasi yang menghasilkan pun terkadang kita juga tergoda untuk menjualnya, entah karena terdesak karena kebutuhan maupun karena ingin mendapatkan capital gain karena ada peluang investasi yang lebih baik dari investasi kita hari ini.

Disinilah kadang keputusan menambah investasi atau menjualnya menjadi sebuah tindakan krusial karena berdampak pada cash flow atau capital gain kita.

Dalam the next level of business, ada istilah Buy and Sell Business, Jual Beli Bisnis yang merujuk pada sebuah pembelian dari sebuah bisnis.

Ada yang benar-benar men-take over seluruh permasalahan bisnisnya, ada yang layaknya Investing Company, memasukkan ICF (Investing Cash Flow) dari sebuah bisnis yang sudah berjalan.

Kedua hal di atas adalah aset investasi yang butuh keterampilan khusus, bukan sekedar emosional.

Kita bisa memulainya dari investor amatir yang praktek dari ‘membantu’ para pebisnis UMKM yang kekurangan modal dengan proyeksi pertumbuhan bisnis sudah lebih dari 2 tahun.

Layaknya investor sejati, posisi kita adalah menjadi penanggung kerugian ketika bisnis tersebut tidak jalan, kecuali jika pengelolanya yang tidak amanah. 

 

2. Makanan adalah aset guna pakai

Jika aset investasi adalah analogi dari senjata kita buat berperang, maka aset guna pakai adalah analogi dari makanan yang kita miliki ketika kita berperang.

Menyerahkan atau menjual aset guna pakai kita seperti rumah, mobil, motor dan lainnya ketika kita menyerah dalam masalah keuangan, bukan berarti kita akan menjadi terpuruk selamanya.

Bisa jadi yang kita sebut aset guna pakai adalah harta kita, ternyata merupakan ‘utang’ yang mengerogoti harta kita karena tidak produktif atau tidak menghasilkan.

Alih-alih ingin menjadi aset otot, yang terjadi adalah aset lemak yang menempel di tubuh keuangan kita.

Di Jepang ada sebuah filosofi yang marak selama pandemi ini, namanya Gaya Hidup Minimalis, less is more, yang berasal dari Filosofi Zen.

Intinya adalah agar kita hanya berfokus pada kebutuhan, bukan sekedar keinginan, karena sumber kebahagiaan adalah merasa cukup, bukan berlebih.

Bagi yang memulai hidup baru alias menikah dari tangga paling bawah, tentu masih ingat ketika pertama kali memiliki hanya beberapa barang yang benar-benar menjadi kebutuhan, nyatanya bisa menikmati hidup.

Kenapa setelah memiliki banyak barang, kenikmatan hidupnya malah berkurang?

Sama seperti ketika kita bepergian, tidak semua barang-barang yang ada di rumah kita, kita bawa semua, tetapi yang benar-benar kita butuhkan selama perjalanan saja yang kita bawa.

Begitulah sejatinya kita menikmati kehidupan kita.

Bahkan seorang teman dan mentor saya, ketika beliau bepergian ke sebuah negara, beliau hanya membawa baju di badan dan sebuah jas buat aktivitas bisnisnya.

Baju atau celana lainnya beliau beli di pasar setempat, setelah tidak menggunakannya lagi beliau laundry lalu mensedeqahkan kepada yang membutuhkan.

Itulah gaya hidup minimalisnya dan semakin beliau berbagi, semakin tidak berkurang hartanya. 

 

3. Harapan adalah aset lancar

Jika aset investasi adalah analogi dari senjata kita buat berperang, aset guna pakai adalah analogi dari makanan, maka aset lancar adalah analogi dari harapan yang kita miliki ketika kita berperang.

Dengan harapanlah kita bisa memandang masa depan, selangkah lebih maju dari hari ini.

Karena masa depan masih bersifat abstrak, maka kita menjadikannya nyata layaknya aset lancar yang kita miliki.

Apa itu aset lancar?

Aset lancar adalah aset yang langsung bisa kita gunakan.

Jika kita punya ruangan pendingin yang bisa mendinginkan ayam potong dalam jumlah besar dan kita bisa mengklaim itu sebagai aset investasi kita (karena bisa kita jual beli), maka lemari pendingin/kulkas yang kita punyai adalah aset guna pakai kita.

Sementara, ayamnya sendiri adalah aset lancar kita, yang langsung kita bisa masak untuk kita makan.

Walau aset lancar juga berarti uang, tabungan di bank, deposito, reksadana pasar uang dan emas logam mulia, ketika kita punya keterampilan dan dengan keterampilan tersebut kita bisa langsung gunakan, maka itu juga termasuk aset lancar kita.

Dengan adanya aset lancar tersebut, kita bisa membiayai kebutuhan hidup kita sehari-hari.

Inilah sebenarnya harapan dalam pengertian aset lancar, bukan sekedar harapan masa depan, tetapi harapan yang langsung bisa kita eksekusi.

Apalagi di tengah resesi hari ini, cash is the king & cash flow is the queen yang mana hanya orang-orang yang masih punya cash dan cash flow lah yang masih memiliki harapan buat bangkit, ketimbang yang sama sekali tidak ada cash.

Wallahu'alam....

 

Hari 'Soul' Putra

Managing Director WealthFlow 19 Technology

Sun, 29 Nov 2020 @07:00

Copyright © 2021 - 2009 SMCorp. · All Rights Reserved