RSS Feed
logo
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PEMBICARA - PENULIS - PERENCANA KEUANGAN
Artikel Terbaru
Arsip
21 step's to be real entrepreneur

New Release Book

DARI PRAKTISI P3K
image

Hari 'Soul' Putra

Financial Motivator


Penemu The Supreme Learning Program
Statistik Pengunjung

image

 

 

 

 

 

FB Motivasi Keuangan

 

WealthFlow 19 & Business Advisory
Mau Nambah Passive Income
Bimbel Bisnis Online
Media Strategic Partner
Radio Internet

Realitas Sekunder hari ini kita RESESI KEUANGAN, Realitas Primernya?!!!

image

Oleh : Hari Soul Putra

Sore kemaren di beberapa wilayah di Jabodetabek diguyur hujan, khususnya di Depok.

Padahal awalnya langit cerah, dan saat itu saya lagi menikmati gowes Si Untung, sepeda hitam buatan anak bangsa yang telah menemani saya sejak 2011.

Seperti biasanya, 2 hari sekali rute UI Depok jadi tempat favorit saya buat 'Refreshing on the Sky', ketika roda sepeda berputar, saat itulah 'Freedom'-nya saya.

Kalo orang mencari hormon adrenalin lewat olahraga ekstrim termasuk bersepeda balap, sementara saya mencari hormon endorphin lewat bersepeda, santai dan gembira.

Baru sejak Pandemi Covid 19 tahun ini, tiba-tiba banyak para Goweser junior muncul di jalanan.

Trend ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Walau seorang Azrul Ananda yang punya Cafe Sepeda memprediksi, trend ini tidak akan lama, tetapi bagi pencinta sepeda, ada tidak adanya trend Goweser, kami akan tetap eksis.

Seperti juga para pecinta Harley Davidson, maka Goweser sejati menjadikan bersepeda layaknya kumpul keluarga (brotherhood).

Seperti itulah yang terjadi hari ini, kami melihat fenomena merebaknya para Goweser baru seperti Fenomena Realitas Sekunder.

Apa itu realitas sekunder?

Realitas adalah kenyataan, apa yang terlihat di lapangan.

Sementara sekunder berasal dari bahasa latin secundus yang berarti kedua.

Jadi jika kita melihat Realitas Sekunder banyaknya orang bersepeda, tidak berarti  benar-benar mereka mencintai aktifitas bersepeda layaknya para 'Maniak Sepeda' bahkan sekelas Pecinta Harley Davidson sekalipun.

Begitupun ketika RESESI KEUANGAN ini mampir ke Indonesia, secara realitas sekunder, iya terjadi Resesi dengan Riset oleh BPS, ekonomi kita minus 5%.

Bahkan di negara Singapore malah sudah Resesi Keuangan hingga Minus 42%.

Tapi bagaimana sejatinya, Realitas Primernya?

 

 

Cycling in the Rain

Ketika hujan lebat melanda Depok, saat itu saya lagi di atas sadel Si Untung.

Realitas Sekundernya, hujan lebat dan angin kencang, maka hawa panas yang melanda Depok sore itu, tiba-tiba tergantikan hawa dingin yang menusuk tulang.

Beberapa rekan sesama goweser, memilih berteduh di halte UI.

Sementara saya, karena lagi 'trance' cycling on the sky, malah melakukan Cycling in the rain layaknya Dancing in the rain heheheh

Hujan bagi saya adalah anugerah, karena memang 'tidak ada yang perlu dikhawatirkan' karena saya tidak bawa HP ketika bersepeda.

Kalopun basah, yang basah hanya baju, celana dan Si Untung.

Tapi bukan itu pointnya, tapi ketika realitas sekunder hujan lebat dan dingin, sejatinya realitas primer, kenyataan utamanya, saya tidak merasakan dingin karena hujan, malah panas karena tubuh saya berkeringat dan aliran darah di tubuh saya bergerak karena menggowes Si Untung.

Sama juga ketika hari ini Realitas Sekunder nya KRISIS, RESESI bahkan DEPRESI sekalipun, Realitas Primer kita mengatakan kita BERTUMBUH dengan pesat.

Sama halnya ketika kita belajar dari Chinese Wisdom tentang Krisis, ada istilah Way (Danger) dan Gee (Opportunity), hurufnya sama, tapi kita mengartikannya dalam dua realitas berbeda.

Dalam bahasa agama dimaknai, bersama-sama kesulitan ada kemudahan.

Fakta bahwa hari ini kita RESESI, itu tidak terbantahkan, tetapi bagaimana cara kita bersikap, itu yang lebih penting.

Jadi, ada 3 hal yang perlu kita rubah ketika realitas sekunder yang terjadi di sekitar kita, agar tidak mempengaruhi realitas primer yang menjadi pengendalinya.

 

1. Positive Thinking

Ya, berfikir positif terhadap apapun yang terjadi.

Selalu baik sangka (huznudzon) pada apapun yang kita terima.

Termasuk juga ketika terjadi Resesi Ekonomi seperti hari ini.

Walau begitu, teori ini sudah sejak lama bercokol di dunia barat yang dikenal dengan nama PMA (Positive Mental Attitude) atau Aliran Sikap Mental Positif.

Paling tidak Stephen Covey lewat buku Fenomenalnya "The Seven Habits of High-ly Effective People" menyatakan : "Sikap kita terhadap sesuatu hal bersumber pada Peta Mental atau Kerangka Acuan alias Paradigma."

Karenanya, bila kita ingin mengalami perubahan secara signifikan, yang lebih penting bukanlah mengubah sikap dan perilaku kita, tetapi memperbaharui, meng-up date, melengkapi atau menggeser paradigma.

"Andai saja kita ingin tiba di suatu tempat tertentu di tengah kota Surabaya, kita berangkat dari Jakarta, sebuah peta jalan-jalan di kota tersebut akan sangat membantu kita untuk tiba di tujuan.

Namun, bila ternyata terjadi kesalahan cetak sehingga peta kota Surabaya yang kita pegang sebenarnya adalah peta Kota Bandung, maka dapatkah kita bayangkan ketidakefektifan dan frustasi yang akan kita alami dalam usaha mencapai tujuan kita?

Kita akan menata PERILAKU kita, berusaha lebih keras, lebih teliti, lebih giat, dan melangkah lebih tepat.

Tapi usaha kita hanya akan membawa kita ke tempat yang salah secara cepat.

Kita mungkin akan menata sikap positif kita, mencoba berfikir lebih positif, kita tetap tidak akan sampai ke tujuan kita.

Jika kita bersikap sangat positif, maka kita dapat menikmati perjalanan kita, tidak peduli dimanapun kita berada. 

Masalahnya bukan perilaku atau sikapnya yang salah, melainkan kita memiliki peta yang salah.

Dan hasilnya adalah kita tersesat."

Jadi, sebelum kita melakukan positive thinking, maka PERBAHARUI dulu PETA PIKIRAN kita lewat POSITIVE BELIEVE.

Selalu bersandar pada Yang Maha Kuasa, Allah SWT, bukan pada Kuasa Manusia yang pastinya selalu ada kesalahan dan ketidaksempurnaan.

 

2. Positive Feeling

Jika Positive Thinking adalah Wilayah logika, maka Positive Feeling adalah wilayah RASA.

Mayoritas yang terjadi hari ini, wilayah RASA ini yang lebih banyak bermain.

Seperti Teori Konvensional tentang alam sadar yang hanya 12% dan alam bawah sadar 88% maka wilayah RASA yang di teliti manusia ini seperti kita mengenal diri kita.

Bukan sekedar menilai kecantikan, tinggi rendah, warna kulit, keturunan dan bangsa saja, tapi mengenal HAKIKAT manusia.

Hakikat Manusia adalah batinnya, tanpa hakikat, yang lahir (kelihatan) tidak akan berguna.

Misalnya ketika kita pegang UANG, pada dasarnya kita bisa membelanjakan apapun yang kita mau.

Seperti kita pegang Kartu Kredit dan Pinjol (Pinjaman Online), uangnya ada tetapi itu uang Bank atau Uang si Provider FinTech (Financial Technology).

Secara hakikat, itu bukan punya kita, jikalau pun punya kita, rasanya akan beda.

Senang mungkin iya, sebentar, tetapi setelah episode senang muncul episode tegang, karena harus bayar cicilannya, setelah tegang muncul Stress, lalu Stroke, bisa jadi Stop alias meninggal dunia karena tidak kuat menanggung beban DERITA.

Tapi jika kita masuk ke wilayah RASA, maka setelah Tegang, harusnya kita LAPANG kan hati, bukan malah menyempitkannya, sehingga nanti kita bisa TENANG, itulah inti Positive Feeling.

Jiwa kita menjadi tenang, barulah jika jiwa kita menjadi tenang dengan Dzikir mengingat Allah SWT, maka kita sejatinya dalam Proses Perbaikan Diri.

Dari Perbaikan Diri, kita akan Fokus pada Solusi atau Peluang yang 80%, barulah sisanya 20% masalah.

Karena bagaimanapun, sebagai manusia, kita wajib Ikhtiar baik secara :

1. Ikhtiar Keras

2. Ikhtiar Cerdas

3. Ikhtiar Tuntas dan

4. Ikhtiar Ikhlash.

Dengan ke-4 hal ini, maka Positive Feeling akan menjadi satu paket Kesuksesan yakni Kombinasi Iman dan Strategi.

 

3. Positive Motivation

Motivation is Reason for Doing something.

Alasan seseorang melakukan dan bergerak atau tergerakkan.

Ada yang karena faktor luar (realitas sekunder) maupun dari faktor dalam (realitas primer).

Puncak dari Positive Motivation adalah bagaimana caranya agar bisa memotivasi orang lain agar lebih bahagia.

"If you want to be happy, happy now, Jika kita ingin bahagia, bahagialah sekarang juga.

Jangan tunggu nanti, setelah resesi ekonomi berakhir dalam realitas sekunder, misalnya.

Tapi, nikmatilah dan bahagiakanlah diri kita ketika resesi ekonomi dalam realitas sekunder terjadi.

Setelah kita Bahagia, ajaklah orang lain juga Bahagia dan Muliakanlah mereka, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dengan terus melakukan Positive Thinking, Positive Feeling dan Positive Motivation dalam Irama Melatih Diri kita, mudah-mudahan kita akan mendapatkan kebahagiaan yang Allah SWT janjikan di dunia sebelum kebahagiaan abadi di akhirat.

Jika Anda tertarik Belajar Ilmu MENARIK KEBERUNTUNGAN via Zoom dengan Tema "Menjadi Pribadi Beruntung", untuk detail informasinya bisa buka disini.

 

Wallahu'alam....

 

Hari 'Soul' Putra

Managing Director WealthFlow 19 Technology

Mon, 17 Aug 2020 @06:43

Copyright © 2020 - 2009 SMCorp. · All Rights Reserved