RSS Feed
logo
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PEMBICARA - PENULIS - PERENCANA KEUANGAN
Artikel Terbaru
Arsip
21 step's to be real entrepreneur

New Release Book

DARI PRAKTISI P3K
image

Hari 'Soul' Putra

Financial Motivator


Penemu The Supreme Learning Program
Statistik Pengunjung

image

 

 

 

 

 

FB Motivasi Keuangan

 

WealthFlow 19 & Business Advisory
Mau Nambah Passive Income
Bimbel Bisnis Online
Media Strategic Partner
Radio Internet

Hidup jangan banyak Gengsi, tapi banyakin Investasi

image

Hari ini yang namanya gaya hidup (life style) sudah menjadi kelaziman di era daring.

Yang tidak kaya ingin kelihatan kaya, yang tidak cantik dengan polesan photoshop bisa menjadi bak bidadari.

Yang miskin, bagaimana caranya agar kelihatan kaya hanya bermodal smartphone.

Bahkan beberapa pesohor tahan utang kartu kredit dan pinjol (pinjaman online) agar bisa membeli barang-barang mewah, agar dianggap hebat sama follower-nya.

Kepalsuan-kepalsuan sepertinya sudah menjadi kelaziman di zaman ini.

Tiba-tiba kita dengar dan kita saksikan seorang Youtuber atau Instagramer terlilit utang yang tidak sedikit karena hidup mewah dan gengsi tingginya.

 

Gengsi Tinggi

Gengsi menurut KBBI daring adalah kehormatan dan pengaruh, harga diri, martabat, yang tindakannya hanya untuk menjaganya.

Jika gengsi menjadi sebuah keseharian dan memang terbukti apa adanya, mungkin tidak akan jadi masalah.

Misal seorang Sir Richard Branson bergaya hidup mewah, memang beliau seorang triliuner, kita akan bilang lazim, karena beliau tahu kapan harus mendapatkan uang dan kapan akan membelanjakannya.

Tapi jika ada orang biasa lalu demi gengsi memaksakan dirinya kelihatan mewah dan akhirnya terungkap hidup mewahnya dengan basis utang konsumtif atau bad debt, tentu ini tidak bijak.

Alih-alih demi gengsi, akhirnya terjebak ke spekulasi dan akhirnya 'bunuh diri', apakah hartanya, reputasinya, karirnya atau memang jadi harga diri turun ke titik terendah sehingga sudah tidak dipercayai masyarakat lagi.

Agar gengsi tidak menjadi panglima diri, alangkah baiknya merubah gengsi menjadi investasi.

Bisa kita mulai dari apa yang kita senangi, misalnya hobi.

Jika hobi kita makan, mengapa tidak membuat rumah makan.

Jika hobi kita jalan-jalan, mengapa tidak menjadi pemandu jalan-jalan.

Jika hobi kita mengoleksi barang-barang, kenapa tidak membuat gudang barang keperluan masyarakat.

Intinya, dari hobi menghasilkan nilai tinggi, dari konsumtif menjadi produktif, dari gengsi menjadi investasi.

Apakah untuk memulai investasi perlu uang yang banyak terlebih dahulu?

Bisa iya  bisa tidak, terrgantung dari perspektif dan keterampilan kita.

Jika untuk mendapatkan uang besar, harus dari memiliki uang banyak terlebih dahulu, maka akan sampai kapan kita punya uang banyak.

Seperti kata-kata “Saya akan sedekah atau berbagi, jika saya sudah kaya” sepertinya mulia.

Tapi pertanyaannya, kapan kita akan kaya?

Jika kita tidak kaya, maka kita tidak akan pernah sedekah atau berbagi.

Maka paradigmanya harus di ubah, “Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah maka kita akan jadi kaya” lakukan terlebih dahulu, jadikan SEDEKAH sebuah karakter sehingga ketika kita ‘sudah pantas’ alias layak untuk menjadi orang kaya, masalah keadaan itu tinggal menunggu waktu saja.

 

Berikut 3 langkah jitu merubah gengsi menjadi investasi :

 

1. Kenali potensi diri agar menjadi bernilai jual tinggi

Setiap orang pada dasarnya unik dan memang tidak ada yang sama, walau kembar identik sekalipun.

Penyatuan antara talent, passion dan strength wajib diketahui sedini mungkin agar waktu kita tidak habis untuk mencari-cari jati diri.

Ibarat dalam perjalanan, orang yang sudah tahu tujuannya akan lebih menikmati hidup, ketimbang yang tidak punya tujuan hidup, walau dalam menjalaninya, bisa jadi yang tidak punya tujuan akan lebih ‘berwarna’ hidupnya.’

Karena urusan ajal kita tidak ada yang pernah tahu.

Maka, semakin cepat kita memahami diri sendiri akan mempercepat kesuksesan kita.

Sekarang sudah banyak metode atau pendekatan untuk memahami diri dan potensi kita seperti VAKOG (Visual, Auditory, Kinesthetic, Olfactory, Gustatory), ada DISC (Dominance, Influence, Steadiness, Compliance), Personality Plus SMPK (Sangunis, Melankolis, Plegmatis dan Koleris), ada MBTI (Myers Briggs Type Indicator), STIFin (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Instinct) dan lain-lain.

Intinya, semakin cepat kita memahami siapa diri kita, maka fokus pada kekuatan kita dan asah terus hingga bernilai tinggi (High Value).

 

2. Bangun komunitas yang peduli investasi diri demi meraih prestasi

Setiap manusia akan mencari sahabat, teman, pasangan dan saudara yang seirama dengan tujuan hidupnya.

Pun jika berbeda karakter, misalnya yang satu pendekatan otak kanan, yang satu pendekatan otak kiri, pastinya akan menemukan titik keseimbangan dalam hidupnya.

Karena yang mendrivenya adalah tujuan Bersama.

Sahabat saya, membuat Gerakan Sadar Kaya berawal dari beliau memahami dirinya Sadar Miskin, dan miskin itu sangat tidak menyenangkan.

Lewat proses hidup, beliau akhirnya menemukan KEKUATAN dirinya dan fokus disana.

Untuk menuju kesana, dibutuhkan effort Belajar dan Daya Juang yang tidak sedikit, bagaimana merubah dirinya dari yang ‘biasa’ menjadi luar biasa.

Meledakkan potensi dirinya bersama-sama komunitas yang beliau bangun dan ikuti.

Ikuti berarti beliau belajar, bangun berarti beliau mengaktualisasikan dirinya.

Jika ingin kaya, maka menjadi top manajemen di perusahaan terkemuka, menjadi pekerja mandiri kreatif atau berbisnis, tetapi jika ingin sejahtera maka investasi dan menjadi investor adalah MENU HARIAN yang wajib dijalani.

Untuk mewujudkannya, carilah komunitas yang positif yang menjadi tempat belajar dan mengajar, karena investasi ini adalah proses yang berkelanjutan.

Bahkan seorang Warren Buffet sekalipun di usia yang hamper mencapai 100 tahun saja masih tetap berinvestasi.

 

3. Sosialisasi keunikan diri, mulailah investasi secara berjama’ah

Memulai itu pastinya akan terasa berat di awal, tetapi yakinilah seperti kita minum jamu, pahit tapi menyehatkan.

Untuk berinvestasi bisa dari mulai dengan nominal kecil, tetapi secara berjama’ah, entah lewat koperasi, reksadana atau urun modal dalam sebuah proyek.

Misalnya, jika membuat sebuah outlet rumah makan dibutuhkan dana Rp 500 juta, tentu bagi investor pemula akan terasa sangat berat.

Jika secara berjama’ah atau bersama-sama, bisa jadi 1 orang hanya mengeluarkan modalnya Rp 1 juta.

Bahkan untuk berinvestasi di Reksadana hari ini cukup di mulai dari Rp 100 ribu.

Artinya banyak jalan menjadi investor agar hidup kita sejahtera.

Bagi yang melakukan direct investment, ‘jual’ lah keahllian diri Anda pada komunitas tersebut dan jadilah orang yang aktif.

Karena peluang investasi berikutnya akan muncul dari banyaknya kita dikenal dalam komunitas investor positif.

Terakhir, jika gengsi adalah kebiasaan awal kita, maka mulai perlahan dan pasti menjadikannya ‘gengsi’ ini menjadi investasi buat diri, keluarga, bisnis, bangsa dan agama dalam satu tarikan nafas yang bermakna menjadi karakter diri sejati.


Hari 'Soul' Putra    
Managing Director WealthFlow 19 Technology 
www.P3KCheckUp.com      
Founder IBC/Indonesian Business Community   
Motivator Keuangan

Wed, 4 Sep 2019 @06:38

Copyright © 2019 - 2009 SMCorp. · All Rights Reserved