RSS Feed
logo
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PEMBICARA - PENULIS - PERENCANA KEUANGAN
Artikel Terbaru
Arsip
21 step's to be real entrepreneur

New Release Book

DARI PRAKTISI P3K
image

Hari 'Soul' Putra

Financial Motivator


Penemu The Supreme Learning Program
Statistik Pengunjung

image

 

 

 

 

 

FB Motivasi Keuangan

 

WealthFlow 19 & Business Advisory
Mau Nambah Passive Income
Bimbel Bisnis Online
Media Strategic Partner
Radio Internet

4 Disiplin Sukses Keuangan

image

Kanal MOTIVASI KEUANGAN Republika Online

Selasa, 01 November 2016, 11:10 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Jika kita memberi (giving), maka tantangannya adalah seikhlas mungkin, semakin tinggi ikhlas kita semakin baik.  Namun ketika kita melakukan sebuah aktivitas bisnis, maka harus se-DISIPLIN mungkin. Disiplin inilah yang menjadi ruuh dari bisnis, tanpa itu bisnis akan jalan di tempat atau bahkan mengalami kematian.

Dalam aspek Money Management, ada 4 disiplin yang jika kita konsisten melakukannya, maka tidak saja bisnis atau usaha kita yang akan berkembang, tetapi diri kita pun akan mengalami pertumbuhan mental yang signifikan. Berikut 4 disiplin keuangan agar Anda sukses dalam menjalankan sebuah aktivitas bisnis.

1. Sedekah minimal 10 persen dari penghasilan

Artinya 10 persen minimal, berarti bisa berapa pun yang akan Anda berikan. Kenapa harus 10 persen minimal? Di sinilah letak seni pengaturannya. Pada dasarnya kita sangat sayang dengan apa yang sudah kita capai hari ini, apakah dengan penghasilan yang lumayan, banyaknya harta di rumah dan seterusnya.

Tetapi ketika Anda bisa menyisihkan uang 10 persen untuk sedekah, sebenarnya saat itu Anda sudah kaya atau sejahtera. Jangan menunggu sejahtera atau kaya baru bersedekah, tetapi bersedekahlah maka Anda akan menjadi kaya/sejahtera.

Banyak dari kita hari ini mungkin kesulitan uang, utang dimana-mana, tetapi yakinlah ketika Anda bisa bersedekah, maka saat itu sebenarnya  Anda lagi di posisi tangan di atas. Jika ini Anda jadikan sebuah sistem nilai dalam keluarga Anda, dan mulai mengajarkan disiplin keuangan nomor satu ini kepada anak atau saudara Anda, secara tidak langsung Anda sudah memiliki abundance mentality atau mentalitas keberlimpahan.

Sesakit-sakitnya Anda hidup hari ini, jika punya mentalitas keberlimpahan, Insya Allah tidak akan terjebak pada putaran masalah.  Anda akan selalu melihat lebih besar solusi ketimbang masalah. Bukan wahai Tuhan, masalah aku sangat besar, tetapi katakanlah “Wahai masalah, Tuhanku Maha Besar”.

Ketika Anda terjebak utang, tentu ada rasa rendah diri kepada orang yang Anda utangi, apalagi itu tetangga sebelah rumah Anda. Otomatis orang-orang yang berutang tadi, tidak bisa dengan leluasa untuk mencari solusi, karena sepertinya pintu-pintu tersebut seakan tertutup, padahal jika Anda punya mental keberlimpahan, maka Anda tetap dengan kepala tegak untuk silaturrahim ke tetangga Anda.

Hal hasil dengan adanya silaturrahim tadi, bisa jadi Allah SWT akan memberikan solusi dari tempat yang tidak kita sangka-sangka. Dengan bersedekah minimal 10 persen dari penghasilan dan Anda langsung memberikannya kepada orang yang membutuhkannya, maka saat itu juga Anda jadi orang yang sangat-sangat kaya.

Rasakan sensasi awalannya, lalu jadikan ini sebagai barbel kehidupan sehingga sedekah menjadi sebuah kebiasaan yang tentunya masalah riba, cara berbisnis yang dilarang Tuhan, harus Anda tinggalkan. Yang namanya barbel, akan membuat otot-otot keuangan Anda bisa kuat menghadapi masalah keuangan dalam bentuk apapun, karena Anda sudah tahu akan kemana dan harus Anda jadikan apa aset Anda hari ini.

2. Menabung minimal 10 persen dari penghasilan

Ini adalah sebuah upaya dan ikhtiar untuk ‘mengunci’ masa depan.  Masa depan adalah misteri, seperti juga kehidupan adalah sebuah misteri.  Karena hidup kita sesungguhnya bukan hanya untuk hari ini saja, maka konsep ‘menabung’ bisa kita detailkan menjadi Simpanan (jangka pendek), Menabung (jangka menengah) dan Investasi (jangka panjang).
 
Banyak dari pengusaha kita hari ini terjebak dengan konsep BODOL (Berani Optimis Duit Orang Lain), BOTOL (Berani Optimis Tenaga Orang Lain), BOBOL (Berani Optimis Bisnis Orang Lain), BOWOL (Berani Optimis Waktu Orang Lain) dan BOOL (Berani Optimis Otak Orang Lain). Karena intinya, ini merupakan cara kita berbagi resiko dengan orang lain.

Tidak salah memang jika kita menggunakan duit, tenaga, bisnis, waktu dan otak orang lain, tetapi jika kita punya uangnya sendiri, kita akan merasakan sebuah pertanggungjawaban terhadap uang yang kita gunakan, alangkah indahnya. Apalagi uang tersebut sudah berbulan-bulan kita tabung dan memang akan kita niatkan untuk ‘mengunci’ masa depan kita

Gunakan waktu kita di saat produktif, sebelum muncul masa dimana produktivitas kita menurun diakibatkan fisik kita yang sudah melemah dikarenakan sudah tua. Jadi, mari kita siapkan uangnya terlebih dahulu, begitu peluang bagus itu muncul atau kita munculkan, kita sudah punya uang untuk membiayainya.

3. Hidup semurah mungkin

Seringkali saya tekankan bagaimana harus melihat hidup dan kehidupan ini dalam perspektif Motivasi Keuangan. Bagaimana cara kita memandang kebutuhan dan keinginan, dimana kebutuhan terbatas, sementara keinginan tidak terbatas.

Misalnya ketika kita makan cukup 1 piring, itu namanya kebutuhan, tetapi jika sudah lebih itu namanya keinginan.  Kebutuhan dan keinginan biasanya saling kejar mengejar, semakin tinggi kuantitas income/gaji seseorang, maka semakin banyak juga kebutuhan dan keinginan yang akan dijalankan.

Hanya yang perlu diingat, kontrol keuangan tetaplah ditangan kita, bukan orang lain.  Itu artinya, apapun yang menjadi keputusan keuangan kita (financial decision) tetaplah harus logis dan terukur.  Ingat, waktu terus berjalan dan inflasi tidak bisa kita bendung, tetapi mengalahkan inflasi ada caranya.

Bedakan juga antara kelihatan kaya dan kaya benaran. Banyak orang yang ingin dilihat kaya, padahal mereka belum kaya benaran. Cari paling sederhana mengukur kekayaan adalah apakah harta kita lebih besar dari utang kita.

Utang bisa bermakna kewajiban kepada orang lain, kewajiban terhadap biaya operasional kehidupan kita dan seterusnya. Jangan sampai semua hidup kita berlandasakan utang agar ingin disebut kaya.

Coba kita lihat lagi, apakah rumah kita belum lunas (KPR), kendaraan kita belum selesai masa cicilannya (KPM) dll padahal ada cara yang lebih nikmat hidup tanpa utang dan bisa beli secara tunai, khususnya untuk barang-barang yang kecil, yang bisa kita tunda dulu hingga uangnya terkumpul. Orang-orang yang terjebak dengan mentalitas konsumtif, akan berbeda hasilnya jika memiliki mentalitas produktif.

Konsumtif tidak melihat pada esensi kegunaan, tetapi pada bisa cepat dan bisanya digunakan. Mental konsumtif ini akan berbahaya ketika tidak di rem, apalagi bagi yang punya kartu kredit.  Karena dimudahkan menggunakannya, maka pola gaya hidup ini akan terus berulang dan berulang, hingga nantinya Anda hidup dalam ilusi.

Produktif berarti, ada uang yang masuk ke kas atau kantong Anda, jikapun tidak minimal bisa memperlancar kerja atau aktivitas Anda, hingga ada pemasukan. Seperti jika Anda punya smartphone dan setiap hari Anda sibuk dengan aktivitas pusaran WA, jika ini bisa menghasilkan uang , maka ini termasuk produktif, tetapi jika tidak, lebih baik Anda tidak usah punya WA, karena hanya akan menjadikan hidup Anda sia-sia. 

Kelihatannya produktif, tetapi sebenarnya konsumtif. Bedakan juga jika memiliki sebuah benda/barang, apakah itu termasuk aset atau liabilitas. Bedakan juga antara bad debt dan good debt dan seterusnya. Intinya cukup jadikan dunia dan seluruh isinya di tangan, bukan di hati apalagi di shadr, qolbu, fuad apalagi lubb.

4. Memikirkan investasi minimal 10 jam dalam sebulan

Jika Islam punya orang-orang seperti Abdurrahman Bin Auf, setengah dari masalah ummat bisa terselesaikan dan lebih cepat meningkatkan kualitasnya. Tugas Muslimlah untuk memikirkan ummat, dimulai dari diri dan keluarga. 

Maka digital asset management, property asset management & intellectual asset management kita perbanyak dengan sistem SYIRKAH. Karena kita tidak akan naik level jika kita sendirian.

Apa itu syirkah? Syirkah adalah kemitraan dua atau lebih orang yang secara bersama-sama menjalankan suatu usaha. Dalam Al Muwatta, Bab 35 tentang [Hak] Pemilikan Lebih Dahulu [Syufah] atas Barang, Imam Malik menyampaikan empat riwayat terkait dengan perkongsian bisnis ini.

Dalam syirkah ketersediaan modal tidak selalu dipersyaratkan. Tapi, bila ada modal yang dilibatkan, maka semua orang yang bermaksud melakukan syirkah harus menyediakannya, walaupun dalam jumlah yang tidak sama.
Nilai partisipasi uang ini, secara proporsional, akan menjadi nilai saham masing-masing dalam syirkah yang dibentuknya. Dengan keharusan semua mitra untuk terlibat dalam usaha model syirkah tidak memungkinkan adanya peluang perampasan hak milik seseorang oleh orang lain, seperti dalam sistem kapitalis.

Ada dua hal pokok lain di dalam syirkah yang secara prinsipil membedakannya dari sistem kontrak bisnis kapitalistik.

Pertama, syirkah tidak mengenal hak mayoritas. Semua mitra dalam suatu syirkah memiliki hak kontraktual yang sepenuhnya sama terlepas dari nilai saham atau jumlah modal yang disetorkannya.

Kedua, dalam syirkah tidak dikenal istilah laba, apalagi deviden, yang dibagikan pada setiap akhir tahun.

Yang ada di dalam syirkah adalah pemilikan aset secara bersama, proporsional menurut saham yang disetorkan, dan setiap mitra berhak untuk meminta dilakukannya likuidasi atas aset bersama tersebut di setiap saat.

Ketiga, dalam syirkah bila salah satu mitra meninggal dunia maka kontrak syirkah dengan sendirinya berakhir. Tidak dapat diwariskan sebagaimana saham dalam perusahaan kapitalis.

Bentuk kontrak syirkah juga menghasilkan dua realitas berbeda dari sistem kapitalis. Hubungan buruh-majikan dalam model kapitalis digantikan dengan model hubungan ’master-apprentice’ (mu’allim-mubtadi’) dalam gilda-gilda (sinf).  Gilda merupakan satuan usaha produksi yang cocok dengan bentuk kontrak syirkah.

Kedua, dengan syirkah tidak dikenal istilah ’investor tidur’, karena dalam kontrak syirkah disyaratkan keterlibatan ke semua pihak secara adil. Kemungkinan terbentuknya sebuah kemitraan investasi, dengan salah satu pihak sebagai ’investor tidur’, hanyalah melalui qirad (disebut juga sebagai mudharabah), yang memberikan konsekuensi sama sekali berbeda dari syirkah.

Selamat menjalankan 4 disiplin sukses keuangan!


Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : uang@rol.republika.co.id  SMS 0815 1999 4916.

Anda tertarik mempelajari penggabungan ilmu motivasi dan financial planning ?

 

Silahkan klik atau Sms ke No 0815 1999 4916 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

 

Hari ‘Soul’ Putra (Motivator Keuangan Indonesia, Managing Director WF 19 Technology., Ketua Gerakan Indonesia EMAS 2029, Penulis Buku Laris WealthFlow 19 – Rahasia tentang Uang, Kekayaaan dan Kesejahteraan, Penerbit Gramedia)

 

1 OUTCOME, 9 INCOME = SUPER WEALTHY PERSON

 

Untuk Informasi Ceramah, Training, Workshop dan pemesanan buku bisa menghubungi :

Sms            : 0815 1999 4916 

Twitter        : twitter.com/h4r1soulputra

http://id.linkedin.com/pub/hari-soul-putra/67/71b/20a/

Website      : www.p3kcheckup.com

 

WealthFlow 19 Technology., Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas)

Head Offfice: Jl. Raya Pasar Ahad No. 4 Triloka 1 Blok N 1 Pancoran Jaksel 12780   Phone (62-21) 70 380 692 Fax (62-21) 70 380 692

Hotline Sms : 0815 1999 4916

Wed, 2 Nov 2016 @06:22

Copyright © 2017 - 2009 SMCorp. · All Rights Reserved