New Release Book
SPIRITUAL
BISNIS
ANTI VIRUS TERBAIK
SOLUSI WEBSITE
MEDIA
ALAT PERMAINAN PERENCANAAN KEUANGAN
SPESIALIS KOMUNITAS
SOUL ENTREPRENEUR : VOCATION OR AVOCATION ?
HARI ‘SOUL’ ENTREPRENEUR ‘
CEU SA’I CENTER ( ‘Social-spiritual entrepreneur’ Action & Innovation ) & SEKJEN APW ASOSIASI PENGGERAK WARGA ).
‘Jangan menunggu Kaya Finansial baru Bersosial, tetapi Bersosiallah maka Anda akan Kaya Finansial dan Spiritual ‘
William ‘Bill’ Gates yang kita kenal saat ini pernah dinobatkan menjadi manusia paling kaya sejagad versi Majalah Forbes di tahun 2002. Saat ini menjadi ikon penggerak dari ‘Créative Capitalisme’ atau Kapitalisme Kreatif dimana menganjurkan kepada seluruh pemimpin dunia baik bisnis maupun politik untuk menjadikan paradigma sosial membingkai tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan yang selama ini adalah mengejar keuntungan sebesar – besarnya dengan modal seminimal mungkin agar lebih peduli terhadap tanggung jawab sosial, bukan semata sebagai sosial marketing tetapi lebih dari itu yakni pemberdayaan komunitas.
Semenjak beliau lengser dari tahta Microsoft Corp. dan fokus dalam bidang sosial dengan mendirikan Bill & Melinda Foundation, kerjanya hari ini adalah mendermabaktikan kehidupannya buat kaum miskin di seantero dunia.
Bercermin pada perjalanan hidup Bill Gates, akankah kita sebagai manusia, harus sukses atau sangat kaya dahulu baru bersosial dan spiritual ? atau bisakah bersosial hari ini tanpa harus menjadi sangat kaya lebih dahulu ?
Kalau kita melihat kembali pernyataan Maslow, seorang Profesor dari Harvard University, beliau mengatakan ‘Puncak dari Hierarki Hidup Manusia adalah Aktualisasi Diri’ maka Bill Gates saat ini sedang mencapai puncaknya, yakni aktualisasi diri. Dan peran dia di bidang sosial kemasyarakatan menjadi landasannya.
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang Paradigma Sosial tersebut, perlunya kita kritisi Teori Maslow yang telah mendunia tersebut. Bahwasanya, puncak hierarki hidup manusia bukan semata – mata aktualisasi diri atau Self Esteem tetapi Pencerahan diri. Bahwa puncak dari segala puncak hierarkhi hidup manusia adalah pencerahan hidup / life enlightenment. Kalau diilustrasikan dengan tangga kehidupan jabatan atau lingkup / cakupan terkecil sampai terbesar dari suatu komunitas, pertama adalah keluarga. Di atas keluarga ada RT (Rukun Tetangga), di atasnya ada RW (Rukun Warga), lalu Kelurahan, Kecamatan, Walikota, Gubernur, Presiden dalam lingkup suatu negara. Di atas negara ada Sekjen PBB yang merupakan representasi dari kumpulan negara atau bangsa. Setelah itu kita akan sampai pada yang paling puncak di dunia ini yaitu, Hamba Allah ( Abdullah ) dan di atas Abdullah tidak ada lagi, karena langsung Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Karena Sang Maha Pencipta merupakan Maha dari segala Maha.
Jadi puncak dari segala puncak Hierarki Hidup Manusia adalah Pencerahan Hidup atau Life Enlightenment dan sebagai makhluk yang tunduk pada sang pencipta, tugas kita di dunia adalah menyembah kepadaNya. Dan tujuan akhir dari Perjalanan Hidup kita adalah Bertemu dengan Sang Pencipta, Allah SWT dengan Bahagia menjadi tujuan akhirnya. Sehingga kerucut di atas sebagai Tangga terakhir Aktualisasi Diri versi Maslow yang menempatkan hanya sebagian kecil dari Masyarakat Dunia atau Warga Dunia yang dapat memenuhinya, ada baiknya kita rubah dengan pendekatan Kerucut Terbalik sehingga semakin banyak orang yang bahagia dan tercerahkan hidupnya untuk membuat dunia dimana kita tinggal menjadi lebih baik dan bermakna.
Lantas apa hubungannya dengan kata – kata ‘Jangan menunggu Kaya Finansial baru Bersosial, tetapi Bersosiallah maka akan Kaya Finansial dan Spiritual‘ makna pernyataan di atas bermaksud mengajak kita untuk senantiasa memikirkan orang lain dahulu baru diri pribadi kita. Dengan kata lain ’Jangan menunggu kaya baru berkontribusi, tetapi berkontribusi maka Anda akan menjadi kaya ‘ artinya hidup kita akan lebih berharga dengan memberi dahulu. Dalam berbagai kesempatan, saya sering mendemontrasikan prosesi ketika kita mengangkat telapak tangan kita menghadap ke atas, lalu berhenti beberapa saat di udara. Setelah itu saya meminta kepada audiens untuk sekarang membalikkan dan menjatuhkan tangan tersebut. pertanyaannya, mana yang lebih enak ? Tentunya yang terakhirkan. Begitulah Sunnatullah atau Hukum di Alam Semesta ini, memberi jauh lebih baik dari pada meminta atau menerima. Tangan di atas selalu lebih mulia dari pada tangan di bawah. Maka berbahagialah Anda sekalian yang tangannya tidak pernah lepas berkontribusi / memberi buat sesama. Tumbuhkan Addicted Kontribusi atau kecanduan memberi kepada semua orang.
Di belahan bumi Bangladesh sana, hiduplah seorang lelaki bernama Muhammad Yunus. Beliau merupakan anak ketiga dari 14 bersaudara. Sebagai seorang doktor di bidang ekonomi lulusan Amerika Serikat, adalah aneh jika dia memberontak terhadap teori – teori ekonomi mapan yang dimilikinya. Salah satu hukum ekonomi tersebut mengatakan, ‘Jika sebuah Bank / Lembaga Keuangan memberikan pinjaman, maka wajib bagi si peminjam memiliki 5 C, yakni Collateral, Character, Capital, Capacity dan Condition yang dipandang layak.’ Ketidaksepakatan dan ‘Pembrontakannya’ tersebut pada kemapanan konsep itu, membuat dia akhirnya justru memutar arah 1800 hidupnya. Dengan melepas identitas kedoktoranya, justru saat itu beliau mulai masuk dan belajar dalam Universitas Kehidupan (Life University) di Fakultas Realitas Masyarakat yang sebenarnya. Selama 2 tahun, dari tahun 1975 hingga 1976, Yunus mengajak mahasiswanya berkeliling di desa Jobra Bangladesh. Kegundahan Yunus semakin menjadi – jadi ketika masalah kemiskinan cukup mudah untuk dimengerti namun tidak mudah untuk menemukan solusinya. Muhammad Yunus menemukan pencerahan ketika pada salah satu acara berkeliling ke desa bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Namun, karena ketiadaan modal wanita tersebut meminjam kepada rentenir untuk membeli bambu sebagai bahan baku. Setelah bangku tersebut jadi harus dijual kepada rentenir dan dia hanya mendapatkan selisih keuntungan sekitar 1 penny. Dengan melakukan pendekatan kemanusiaan, ternyata beliau menemukan solusi dari lingkaran kemiskinan di Bangladesh. Bahkan beliau tidak menganggap dirinya sebagai seorang Bankir, yang meminjamkan uang pribadinya tetapi sebagai pembebas bagi keluarga – keluarga miskin di Bangladesh.
Akhirnya, Yunus menemukan sebuah revolusi dalam pemikirannya ( Re – Enlightening ), bahwasanya ’Kemiskinan terjadi bukan karena kemalasan tetapi karena permasalahan struktural, ketiadaan modal’. Sistem ekonomi yang berlangsung membuat kelompok masyarakat miskin tidak mampu menabung bahkan hanya 1 penny sehari. Akibatnya, orang miskin tidak dapat melakukan investasi bagi pertumbuhan usahanya. Rentenir memberikan bunga sekitar 10 % bagi pinjaman yang diberikannya. Sehingga, bagaimanapun juga orang miskin bekerja keras dirinya tak dapat keluar dari lingkaran setan garis kemiskinan.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari Konsep Pemikiran Terbalik seorang Muhammad Yunus, yakni untuk sukses tidak harus bermula dari Finansial, tetapi dari Spiritual dan Sosial. Aspek Finansial hanyalah alat ( tools) bukan tujuan. Seorang Muhammad Yunus, tentulah memiliki tingkat Pencerahan Spiritual ( Spiritual Enlightening ) yang berfikir bukan untuk dirinya sendiri. Dalam kacamata kita dewasa ini, seorang yang mapan secara intelektual belumlah disebut intelektual sejati ketika belum berbagi ilmunya buat kemaslahatan ummat. Dan dengan kekuatan spiritualnya dia berbagi untuk aktifitas sosial. Dari niat bersifat spirit pembebasan menuju dimensi sosial. Hidup ditengah – tengah masyarakat, berdetak seirama dengan realitas yang ada. Seorang pemimpin yang baik, seperti Muhammad Yunus tentulah hidup beserta masyarakat yang di pimpinnya. Melalui dimensi sosial inilah, berakibat pada dimensi finansial. Ingat, finansial hanyalah efek samping, sementara prosesnya ada pada aspek spiritual dan sosial. Dari konsep inilah yang menjadikan dirinya layak sebagai tokoh dan Model Hidup dari Sosial Entrepreneur.
Jadi bisakah bersosial hari ini tanpa harus menjadi sangat kaya lebih dahulu ? telah terjawab sudah J
Vocation ( Kerja ) atau Avocation ( Hobi ) ?
Secara istilah Social Entrepreneur atau Wirausaha Sosial adalah mereka yang mampu menciptakan kreasi atau inovasi baru dalam bidang sosial, dan mereka biasanya langsung berhadapan dengan masalah, ancaman, resiko dan ketidakpastian dalam mencapai kesuksesan. Social Entrepreneur juga mereka yang mampu mengidentifikasi berbagai peluang dan kesempatan serta mencurahkan seluruh sumber daya yang mereka miliki untuk mengubah kesempatan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat buat lingkungan, orang lain dan dirinya sendiri. Banyak orang yang datang dengan ide – ide perubahan dalam lingkup sosial yang menakjubkan, namun sedikit sekali dari mereka yang berupaya mewujudkannya menjadi kenyataan, Social Entrepreneur adalah mereka yang berani mewujudkan ide menjadi kenyataan ( make idea comes true )
Seorang Social Entrepreneur yang telah memiliki usaha sendiri dan telah mapan secara finansial seperti Muhammad Yunus dan Bill Gates termasuk kategori kelompok yang paling di hargai dan paling dipercaya oleh masyarakat. Tetapi bukan berarti yang belum mencapai jenjang tersebut berkecil hati, dan kita juga jangan meniadakan bagaimana proses mereka membangun kredibilitasnya dari nol melalui perjuangan panjang. Proses inilah yang perlu kita tiru dan modifikasi buat mereka yang baru merintis menjadi calon – calon Social Entrepreneur masa mendatang. Usaha yang mereka jalankan didasarkan atas rasa percaya dan saling menghargai. Para Social Entrepreneur ini menikmati kepercayaan dan penghargaan yang ditunjukkan oleh masyarakat, sebagai buah dari pelayanan tulus yang mereka berikan bertahun – tahun.
Ide dasarnya yaitu Mengerjakan Apa yang Anda sukai adalah salah satu kesepakatan di antara sesama Social Entrepreneur, mereka tidak menganggap pekerjaan yang mereka geluti sekarang sebagai sebuah pekerjaan. Kebanyakan Social Entrepreneur yang sukses adalah mereka yang memilih bidang pekerjaan / garapan tertentu karena mereka memiliki ketertarikan dan menikmati bidang tersebut. Selama mereka bekerja mereka melakukannya sebagai hobi ( Avocation ) sekaligus mengerjakan pekerjaan ( Vocation ). Dalam sebuah pepatah yang pernah diungkapkan filusuf dari Tiongkok, Kong Fu Tse, ‘Jika Anda ingin Bahagia seumur hidup cintailah pekerjaan Anda’ atau dengan lain perkataan ‘Temukanlah Pekerjaan yang Anda cintai, maka Anda tidak perlu bekerja seharipun dalam hidup Anda.’ Dan ini tidakah berlebihan, karena di mata Social Entrepreneur, pekerjaan adalah Kegemaran ( Avocation ) ketimbang sebuah Pekerjaan (Vocation) an sich.
SOCIAL ENTREPRENEUR SEBAGAI SEBUAH SOLUSI
Social Entrepreneur dalam pandangan David Bornstein di dalam bukunya ‘How to Change the World : Social Entrepreneur and the Power of New Ideas’ (2004), para Wirausaha Sosial ( Social Entrepreneur ) senantiasa mampu menangkap peluang dan sumber daya, pada saat orang lain mungkin hanya mampu melihat eksisnya sebuah permasalahan. Ibarat seekor burung yang terbang tinggi di angkasa, permasalan jika dilihat dari ketinggian hanyalah titik hitam kecil di daratan. Sehingga burung tersebut selalu melihat solusi dari setiap permasalahan, baca : titik kecil. Social Entrepreneur menjadikan masyarakat sebagai bagian terpenting dari pemecahan masalah ( Problem Solving ), bukan menganggap mereka semata – mata penerima bantuan yang pasif. Social Entrepreneur bekerja dengan asumsi dasar bahwa masyarakat memiliki potensi dan sumber daya yang sangat mumpuni dan dahsyat untuk memberdayakan diri mereka sendiri.
Jika para pebisnis tradisional mengutamakan maksimalisasi laba, maka Social Entrepreneur lebih berfokus pada penciptaan Tatanan Baru ‘Nilai Sosial’ dan ‘Modal Sosial’ yang memberdayakan masyarakat. Tidak seperti pada umumnya NGO / LSM yang bekerja untuk mencapai tujuan jangka pendek dan berdampak dengan skala kecil, Social Entrepreneur memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah sosial dari akar permasalahannya dan bersifat jangka panjang. Dengan kata lain, Social Entrepreneur harus mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah – masalah sosial dalam skala yang lebih luas. Pada saat para pebisnis mampu menciptakan dan mentranformasikan dunia industri yang dibangunnya, maka para Social Entrepreneur bertindak sebagai Agent of Social Change bagi masyarakat, memanfaatkan peluang untuk mewujudkan sebuah perbaikan, menemukan dan menyebarkan pendekatan baru dan mengedepankan solusi yang berkelanjutan bagi sebuah tatanan sosial yang lebih baik lagi . Karena hidupnya kita di masyarakat ini adalah perubahan. Dan arti dasar dari perubahan merupakan akar sejati bagi solusi masyarakat yang terus berkembang. Jadi sejatinya seorang Social Entrepreneur wajib menemukan apa yang menyebabkan masalah sosial itu muncul dan mencari solusinya dengan memperbaiki sistem sosial, menyebarkan ide dan gagasan kemudian mendorong masyarakat untuk melakukan terobosan – terobosan yang fundamental.
AVOCATION PRINCIPLE TO SUCCESS
Potensi tanpa motivasi, ibarat senter tanpa batu batere. Senter yang baik haruslah di isi suatu kekuatan besar guna menerangi kegelapan malam. Sekecil apapun suatu motivasi, haruslah di ukur dengan pendekatan cinta. Cinta ibarat ruh batu batere yang selalu dapat mencharging senter untuk terus menerangi permasalahan hingga menjadi jelas solusinya. Dalam kita memahami pendekatan Kegemaran / Hobi sebagai sarana untuk sukses dengan mengambil prinsip – prinsip Social Entrepreneur, sudah soyogyanya kita menempatkan :
1. Awakening ( membangkitkan )
Awakening diartikan sebagai seorang Social Entrepreneur untuk membangkitkan Potensi Raksasa di dalamnya dirinya agar berguna di masyarakat. Proses Awakening ini dimulai dengan mengidentifikasi Potensi Masa Lalu dan Masa Sekarang untuk melihat dan memprediksi Masa Depan. Dengan adanya potensi ini, diharapkan para pelaku Social Entrepreneur dapat mengemban tugas mulia ini di masyarakat.
2. Voice Your Heart ( dengarkan suara hatimu )
Setiap peluang yang berada di dalam kesempatan dan kesempitan hendaknya mengacu pada bisikan dari hati nurani yang bersih dari niat kotor semata. Nurani yang bersih seperti cahaya mentari yang menyinari bumi. Tanpa ada keluhan, tanpa ada paksaan, mengalir terus menyinari bumi buat menebar kebaikan. Suara hati nurani bercahaya akan menuntun para Social Entrepreneur untuk ikhlas dan gembira setiap kali mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaannya.
3. Obsession ( obsesi )
Setiap pelaku Social Entrepreneur, memiliki keinginan yang kuat dan keinginan bertangung jawab( Desire for Responsibility ) terlebih kepada program yang telah dirintisnya. Obsesi ini akan mengantarkan seorang Social Entrepreneur memiliki kekuatan untuk terus bertahan dari banyaknya tantangan dan hambatan di program – program yang dibuatnya.
4. Care ( peduli )
Para Social Entrepreneur sejati lebih banyak ‘membuang’ waktunya di masyarakat, dengan melihat langsung realitas sosial dan berempati, aksi kongkrit dengan mendengarkan keluhan – keluhan di masyarakat. Peduli adalah bagian dari kepribadian dan karakter sejati seorang Social Entrepreneur.
5. Audience ( masyarakat )
Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menghargai proses perubahan yang terjadi. Lahan pekerjaan yang ada dimasyarakat tidak lain adalah sarana untuk mengekpresikan dan mengatualisasikan diri. Seorang Social Entrepreneur dituntut untuk membuat program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
6. Totality ( totalitas )
Social Entrepreneur menikmati tantangan ketika baru membangun programnya di masyarakat dan mereka sangat ingin totalitas dalam setiap pekerjaannya. Sebagai orang yang terus belajar, mereka ingin mengetahui bagaimana tanggapan orang lain tentang cara yang mereka sedang lakukan dan akan sangat senang sekali jika mendapat masukan dari orang lain.
7. Invest ( menanam )
Kalau Anda ingin mendapatkan yang terbaik, maka investasikanlah yang terbaik. Seorang Social Entrepreneur bukanlah seseorang yang secara serampangan mengambil resiko, namun lebih sebagai seseorang yang sangat memperhitungkan resiko. Ini adalah corak dari menanam benih dimasyarakat, seseorang yang tidak pernah mempersoalkan benih yang ia tanam, sekecil apapun itu, akan tetap dicatat sebagai Akun di Bank Semesta atau Universal Bank Account. Sewaktu – waktu dapat mengambil tabungannya, dengan syarat ada dananya, maka secara sosial dan spiritual akan dipermudah hidupnya di masyarakat.
8. Oxygène ( udara )
Social Entrepreneur terkesan memiliki energi yang lebih besar dibandingkan dengan orang kebanyakan. Karena kekuatan mereka terletak pada simbol udara ( O2 ). Energi ini menjadi faktor yang sangat krusial, terlebih ketika sebuah program baru dijalankan, karena jam kerja yang tak mengenal waktu dan kerja keras telah menjadi sebuah peraturan yang harus dijalankan. Seperti Oksigen yang tidak mengenal kata habis, begitu pula seorang Social Entrepreneur.
9. Noble ( kemuliaan )
Ada yang mengatakan seorang Social Entrepreneur dalam menjalankan aksinya di masyarakat semata di dorong oleh keinginan mereka untuk menghasilkan perubahan – perubahan secara instant di masyarakat. Sebenarnya kekuatan utama mereka dalam menjalankan program – programnya adalah pandangan kemuliaan seseorang bukan diukur pada kekuatan perubahan tetapi pada kebahagiaan yang di dapat terhadap komunitas dimana dia berkiprah.
Prinsip – prinsip ini yang jika kita gabungkan semua huruf awalnya tersebut berarti AVOCATION. Ketika melakukan Vocation ( kerja ) itu maka akan hadirlah Avocation ( Kegemaran ). Dengan kita memiliki kekayaan sosial yang dilaksanakan secara sungguh – sungguh tulus akan memberikan kekayaan di bidang finansial dan spiritual. Ini seperti Professor Muhammad Yunus dengan Hadiah Nobel Perdamaiannya. Atas jasa – jasanya memerangi Kemiskinan di Masyarakat Bangladesh beliau berhak atas uang sebesar $1.4 million yang luar biasa banyaknya. Dan dengan kemuliaannya itu digunakan untuk membuat makanan bernutrisi tinggi buat masyarakat miskin dan mendermabaktikan pembangunan rumah sakit mata di Bangladesh. Cita – cita besar dimulai dari yang terkecil, untuk itu mari kita mulai dari diri kita sendiri dengan menjadikan Social Entrepreneur sebagai Avocation (Hobi) buat Masyarakat. Bukankah Begitu !!
Wassalam Bi Shawab
Copyright © 2012 SMCorp. · All Rights Reserved